Kelompok
II
Pengampu : Pachlan,S. Ag.
Makul :
SPABI
Semester : V (Lima)
SEJARAH CANDI BOROBUDUR
A. Latar belakang
Semakin
lama peninggalan sejarah yang beribu-ribu tahun umurnya semakin diabaikan
tentang sejarah terbentuknya. Masyarakat jaman sekarang hanya ingin
menikmatinya, mereka tidak memperdulikan bagaimana dapat terbentuk
keajaiban-keajaiban dunia. Pada umumnya orang-orang hanya membanggakan diri
tentang adanya hal-hal yang menajubkan di daerahnya. Apa mereka mengetahui
tentang sejarahnya? Belum tentu mereka mengetahui secara jelas dan apa yang
terkandung didalam peninggalan sejarah khususnya Borobudur. Oleh karena itu,
penyusun membahas sejarah atau cerita tentang Candi Borobudur.
B. Pembahasan
1. Sejarah Candi Borobudur
Candi
Borobudur dibangun sekitar tahun 800 masehi atau abad ke-9. Candi Borobudur dibangun pada masa
pemerintahan wangsa Syailendra. Candi dibangun pada masa kejayaan dinasti
Syailendra. Pembangunan cadi Borobudur dilanjutkan pada masa pemerintahan ratu
Pramudawardhani putri dari Semaratungga.
Sedangkan arsitek yang membangun candi Borobudur bernama Gunadharma. Arti nama
Borobudur yaitu “biara di perbukitan”, yang berasal dari kata “bara” (candi
atau biara) dan “beduhur” (perbukitan atau tempat tinggi) dalam bahasa
sansekerta. Candi Borobudur dibangun untuk tempat ibadah bagi umat Buddha
Mahayana.
Dalam
khasanah sejarah budaya agama Indonesia, candi Borobudur merupakan salah satu
bukti penguasa ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat canggih. Bangunan benar,
pokok dan megah dari abad ke-8, dengan gaya arsitektur yang sangat rumit dan
menakjubkan itu, tentu saja menjadi primadona pada masanya, sekaligus sebagai
tanda kejayaan dan kemakmuran masyarakat jawa kuno pada masa itu. Namun
demikian, beberapa lama kebesaran kejayaan dan kemakmuran itu berlangsung. Belum
ada bukti yang dapat dijadikan petunjuk dari data prasasti, sendiri, dan
tinggalan arkeologi lainnya diperoleh berita bahwa pada pertengahan abad ke-7.
Pertengahan abad ke-10, wilayah Jawa Tengah dibawah kekuasaan 2 dinasti , yaitu
dinasti syailendra, dan dinasti sanjaya, kedua dinasti tersebut membangun berpuluh-puluh candi
diwilayah jawa tengah, antara lain: Candi Dieng, Candi Gedongsongo, Candi
Borobudur, candi Prambanan, candi sewu, candi Plaosan, candi Kalasan, dan
kraton, dan Candi ratu boko. Selain itu mereka juga mengeluarkan sebagian
prasasti sebagai tanda peresmian, Sima (daerah
perdikan), bangunan suci dan silsilah raja.
Pada
abad ke-10, kebesaran kemakmuran Jawa tengah tidak lagi gaungnya demikian pula
nasib candi Borobudur di candi – candi lainnya tidak ketahui lagi keberadaanya.
450 tahun kemudian secara samar-samar tersiratlah berita akan adanya bangunan
sici agama Buddha dari sekte-sekte wajradhara, dengan sebutan budur, karena
tidak ada budur lain, tentunya yang disebut dalam kitab nagarakrtagama karangan
Mpu Prapanca tersebut adalah Candi
Borobudur.
2. Riwayat Pamugaran
Dalam
upaya melestarikan Candi Borobudur dari bahaya kemusnahan sebagai peninggalan
sejarah, pemerintahan mengambil tindakan untuk memperbaiki dan memugarnya, pemugaran
pada candi Borobudur telah dilakukan dua kali diantaranya dilakukan oleh Van Erp
dari tahun 1907-1911, pemugaran terhadap ke-2 dilakukan oleh pemerintah
Indonesia dengan bantuan UNECO dari tahun 1973-1983 ke-2 tahap pemugaran
terhadap itu mempunyai ciri-ciri khusus. Pemugaran satu masih bersifat
tradisional dengan menggunakan peralatan dan bahan yang sangat sederhana,
sedangkan pemugaran terhadap ke-2 telah menerapkan teknologi modern baik
pemakian peralatan, bahan maupun pencerapannya. Penerapan teknologi modern pada
bangunan kuno baru pertama kali dilakukan pada candi Borobudur.
a.
Rencana pemugaran
meliputi:
1)
Pembongkaran seluruh
bagian rupha dhatu yaitu 5 tingkat 4 diatas kaki candi yang meliputi lebih dari
1 juta potongan batu atau kurang lebih 29.000ml.
2) Pembersihan dan
mengawetkan batu-batu kulit yang sudah dibongkar sebanyak 170 ribu potong atau
kurang lebih 6000 m3
3) Pemasangan pondasi
beton bertulang pada masing-masing tingkat termasuk pembuatan saluran air dan
kontruksi mencapai volume 4 ribu m3.
4)
Pemasangan kembali
batu-batu kulit yang sudah bersih dari kotoran jazad-jazad renik di tempat
aslinya.
3. Fakta-fakta Sejarah
Borobudur
Bukti-bukti
yang mendasari penemuan tentang Borobudur di Nusantara. Adapun bukti-buktinya
yaitu sebagai berikut:
a. Satu-satunya dokumen tertua yang menujukan
keberadaan candi ini adalah kitab Nagarakkretagama, yang ditulis oleh Mpu
prapanca pada tahun 1365. Di kitab tersebut ditulis bahwa candi ini digunakan
sebagai tempat meditasi penganut Buddha.
b. Sebuah prasasti Cri kahuluan yang berasal dari
abad IX (824 Masehi) yang diteliti oleh Prof. J.G Caparis, mengungkap silsilah
tiga wangsa Syailendra yang berturut-turut berkuasa pada masa itu, yakni raja
Indra, putranya Semaratungga. Kemudian, putrinya yang bernama Semaratungga
Pramodawardhani.
c. Pada masa Raja
Semaratungga inilah mulainya dibangun candi yang bernama: Bhumisan
Bharabudhara, yang diduga berarti tibunan tanah, bukti atau tingkat-tingkat
bangunan yang diidentikan dengan sebuah Vihara kemulan Bhumisambharabudhara
yang mempunyai arti sebuah vihara nenek moyang dan dinasti Syailendra di daerah
perbukitan. Letak Candi ini memang diatas perbukitan yang terletak di Desa
Borobudur, Mungkid, Magelang atau 42 km sebelah laut kota Yogyakarta.
Dikelilingi Bukit Manoreh yang membujur dari arah timur ke barat. Sementara
disebelah timur terdapat Gunung Merapi dan Merbabu, serta disebelah barat ada
Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
d. Sejarawan Belanda Dr. J.G Casparis dalam desertasinya
untuk mendapat gelar doktor pada tahun. 1950 mengemukakan, bahwa Borobudur yang
bertingkat 10 menggambarkan secara jelas terlihat filsafat Agama Buddha
Mahayana yang disebut “Dasabodhisatwabhumi”. Filsafat itu mengajarkan, bahwa
setiap orang yang ingin mencapai tingkat kedudukan sebagai Buddha harus
melampoi 10 tingkatan Bodhisatva. Apabila telah melampoi 10 tingkat itu, maka
manusia akan mencapai kesempurnaan dan menjadi seorang Buddha.
e. Berdasarkan prasasti karangtengah bertahun 824
M dan prasasti kahulunan betahan 824 M. Dr. J.G Casparis berpendapat bahwa
pendiri Borobudur adalah raja Syailendra bernama semaratungga, kira-kira
disekitar tahun 824. Bangunan raksasa itu kiranya baru dapat diselesaikan oleh
putrinya yaitu Ratu Pramodawardhani.
f. Pada tahun 1929 Prof. Dr, W.F. Stutterheim
telah mengemukakan teorinya, bahwa candi
Borobudur itu hakekatnya
merupakan “tiruan” dari alam semesta yang menurut ajaraan Buddha terdiri atas 3
bagian besar yaitu, kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.
g. Dari prasasti karangtengah bertahun 824 M
maupun prasasti Sri kahulungan bertahun 824 menyebutkan bahwa ada tiga buah
candi yang didirikan untuk mengagungkan kebesaran Buddha yaitu Mendut, Pawon,
dan Borobudur.
h. Prasasti Mantyasih yang terletak kira-kira 15
km disebelah utara Borobudur tak jauh
dari kota Magelang. Memiliki keistimewaan yaitu berisi tentang daftar para raja
yang mendahului para raja yang memerintah.
C. Kesimpulan
Letak Candi Borobudur
terletak diatas perbukitan yang berada di Desa Borobudur, Mungkid, Magelang
atau 42 km sebelah laut kota Yogyakarta. Dikelilingi Bukit Manoreh yang
membujur dari arah timur ke barat. Sementara disebelah timur terdapat Gunung
Merapi dan Merbabu, serta disebelah barat ada Gunung Sindoro dan Gunung
Sumbing. Arsitek yang membangun candi Borobudur bernama Gunadharma. Arti nama
Borobudur yaitu “biara di perbukitan”, yang berasal dari kata “bara” (candi
atau biara) dan “beduhur” (perbukitan atau tempat tinggi) dalam bahasa sansekerta.
Candi Borobudur
dibangun pada sekitar 800 M atau pada abad ke- 9 yaitu pada masa pemerintahan raja
semaratungga dan Ratu Pramodwardhani. Candi Borobudur memiliki bukti-bukti
peninggalan berupa dokumen-dokumen dan prasasti-prasasti yang diantaranya:
kitab Nagarakertagama, prasasti karang tengah, dan prasasti Kahulunan. Yang
mana dokumen ataupun prasasti yang berisikan tentang keberadaan candi Borobudur
belum diketahui kejelasannya karena banyak pendapat yang berbeda antara ahli
sejarah yang satu dengan yang lainnya.
Referensi:
Tim Penyusun. 1993. Sejarah Perkembangaan Agama Buddha II. Jakarta. Direktorat Jendral
Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha
dan Universitas Terbuka.
Tim Penyusun, 2003. Materi Kuliah Sejarah Perkembangan Agama Buddha. Jakarta: CV. Dewi
Kayana Abadi.
Tim Penyusun. 2009. Borobudur Archaeological Description. Jakarta: Gyan Pubhsher.
Htpp/wihans.Web.id/sejarah-candi-borobudur,
(di akses pada tanggal 19 Desember 2011).
Htpp/wbw-wbw.blogspot.com/201o/08/data-fakta-seputar-borobudur-dari.html.
(diakses pada tanggal 19 Desember 2011).