Rabu, 03 September 2014



Kelompok II
Pengampu      : Pachlan,S. Ag.
Makul             : SPABI
Semester         : V (Lima)      


SEJARAH CANDI BOROBUDUR
A. Latar belakang
Semakin lama peninggalan sejarah yang beribu-ribu tahun umurnya semakin diabaikan tentang sejarah terbentuknya. Masyarakat jaman sekarang hanya ingin menikmatinya, mereka tidak memperdulikan bagaimana dapat terbentuk keajaiban-keajaiban dunia. Pada umumnya orang-orang hanya membanggakan diri tentang adanya hal-hal yang menajubkan di daerahnya. Apa mereka mengetahui tentang sejarahnya? Belum tentu mereka mengetahui secara jelas dan apa yang terkandung didalam peninggalan sejarah khususnya Borobudur. Oleh karena itu, penyusun membahas sejarah atau cerita tentang Candi Borobudur.

B.  Pembahasan
1.    Sejarah Candi Borobudur
Candi Borobudur dibangun sekitar tahun 800 masehi atau  abad ke-9. Candi Borobudur dibangun pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Candi dibangun pada masa kejayaan dinasti Syailendra. Pembangunan cadi Borobudur dilanjutkan pada masa pemerintahan ratu Pramudawardhani  putri dari Semaratungga. Sedangkan arsitek yang membangun candi Borobudur bernama Gunadharma. Arti nama Borobudur yaitu “biara di perbukitan”, yang berasal dari kata “bara” (candi atau biara) dan “beduhur” (perbukitan atau tempat tinggi) dalam bahasa sansekerta. Candi Borobudur dibangun untuk tempat ibadah bagi umat Buddha Mahayana.
Dalam khasanah sejarah budaya agama Indonesia, candi Borobudur merupakan salah satu bukti penguasa ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat canggih. Bangunan benar, pokok dan megah dari abad ke-8, dengan gaya arsitektur yang sangat rumit dan menakjubkan itu, tentu saja menjadi primadona pada masanya, sekaligus sebagai tanda kejayaan dan kemakmuran masyarakat jawa kuno pada masa itu. Namun demikian, beberapa lama kebesaran kejayaan dan kemakmuran itu berlangsung. Belum ada bukti yang dapat dijadikan petunjuk dari data prasasti, sendiri, dan tinggalan arkeologi lainnya diperoleh berita bahwa pada pertengahan abad ke-7. Pertengahan abad ke-10, wilayah Jawa Tengah dibawah kekuasaan 2 dinasti , yaitu dinasti syailendra, dan dinasti sanjaya, kedua dinasti  tersebut membangun berpuluh-puluh candi diwilayah jawa tengah, antara lain: Candi Dieng, Candi Gedongsongo, Candi Borobudur, candi Prambanan, candi sewu, candi Plaosan, candi Kalasan, dan kraton, dan Candi ratu boko. Selain itu mereka juga mengeluarkan sebagian prasasti sebagai tanda peresmian, Sima (daerah perdikan), bangunan suci dan silsilah raja.
Pada abad ke-10, kebesaran kemakmuran Jawa tengah tidak lagi gaungnya demikian pula nasib candi Borobudur di candi – candi lainnya tidak ketahui lagi keberadaanya. 450 tahun kemudian secara samar-samar tersiratlah berita akan adanya bangunan sici agama Buddha dari sekte-sekte wajradhara, dengan sebutan budur, karena tidak ada budur lain, tentunya yang disebut dalam kitab nagarakrtagama karangan Mpu  Prapanca tersebut adalah Candi Borobudur.

2.    Riwayat Pamugaran
Dalam upaya melestarikan Candi Borobudur dari bahaya kemusnahan sebagai peninggalan sejarah, pemerintahan mengambil tindakan untuk memperbaiki dan memugarnya, pemugaran pada candi Borobudur telah dilakukan dua kali diantaranya dilakukan oleh Van Erp dari tahun 1907-1911, pemugaran terhadap ke-2 dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan bantuan UNECO dari tahun 1973-1983 ke-2 tahap pemugaran terhadap itu mempunyai ciri-ciri khusus. Pemugaran satu masih bersifat tradisional dengan menggunakan peralatan dan bahan yang sangat sederhana, sedangkan pemugaran terhadap ke-2 telah menerapkan teknologi modern baik pemakian peralatan, bahan maupun pencerapannya. Penerapan teknologi modern pada bangunan kuno baru pertama kali dilakukan pada candi Borobudur.
a.    Rencana pemugaran meliputi:
1)   Pembongkaran seluruh bagian rupha dhatu yaitu 5 tingkat 4 diatas kaki candi yang meliputi lebih dari 1 juta potongan batu atau kurang lebih 29.000ml.
2)  Pembersihan dan mengawetkan batu-batu kulit yang sudah dibongkar sebanyak 170 ribu potong atau kurang lebih 6000 m3
3)  Pemasangan pondasi beton bertulang pada masing-masing tingkat termasuk pembuatan saluran air dan kontruksi mencapai volume 4 ribu m3.
4)   Pemasangan kembali batu-batu kulit yang sudah bersih dari kotoran jazad-jazad renik di tempat aslinya.

3.    Fakta-fakta Sejarah Borobudur
Bukti-bukti yang mendasari penemuan tentang Borobudur di Nusantara. Adapun bukti-buktinya yaitu sebagai berikut:
a. Satu-satunya dokumen tertua yang menujukan keberadaan candi ini adalah kitab       Nagarakkretagama, yang ditulis oleh Mpu prapanca pada tahun 1365. Di kitab tersebut ditulis bahwa candi ini digunakan sebagai tempat meditasi penganut Buddha.
b.  Sebuah prasasti Cri kahuluan yang berasal dari abad IX (824 Masehi) yang diteliti oleh Prof. J.G Caparis, mengungkap silsilah tiga wangsa Syailendra yang berturut-turut berkuasa pada masa itu, yakni raja Indra, putranya Semaratungga. Kemudian, putrinya yang bernama Semaratungga Pramodawardhani.
c. Pada masa Raja Semaratungga inilah mulainya dibangun candi yang bernama: Bhumisan Bharabudhara, yang diduga berarti tibunan tanah, bukti atau tingkat-tingkat bangunan yang diidentikan dengan sebuah Vihara kemulan Bhumisambharabudhara yang mempunyai arti sebuah vihara nenek moyang dan dinasti Syailendra di daerah perbukitan. Letak Candi ini memang diatas perbukitan yang terletak di Desa Borobudur, Mungkid, Magelang atau 42 km sebelah laut kota Yogyakarta. Dikelilingi Bukit Manoreh yang membujur dari arah timur ke barat. Sementara disebelah timur terdapat Gunung Merapi dan Merbabu, serta disebelah barat ada Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
d.   Sejarawan Belanda Dr. J.G Casparis dalam desertasinya untuk mendapat gelar doktor pada tahun. 1950 mengemukakan, bahwa Borobudur yang bertingkat 10 menggambarkan secara jelas terlihat filsafat Agama Buddha Mahayana yang disebut “Dasabodhisatwabhumi”. Filsafat itu mengajarkan, bahwa setiap orang yang ingin mencapai tingkat kedudukan sebagai Buddha harus melampoi 10 tingkatan Bodhisatva. Apabila telah melampoi 10 tingkat itu, maka manusia akan mencapai kesempurnaan dan menjadi seorang Buddha.
e.   Berdasarkan prasasti karangtengah bertahun 824 M dan prasasti kahulunan betahan 824 M. Dr. J.G Casparis berpendapat bahwa pendiri Borobudur adalah raja Syailendra bernama semaratungga, kira-kira disekitar tahun 824. Bangunan raksasa itu kiranya baru dapat diselesaikan oleh putrinya yaitu Ratu Pramodawardhani.
f.  Pada tahun 1929 Prof. Dr, W.F. Stutterheim telah mengemukakan teorinya, bahwa candi   Borobudur itu hakekatnya merupakan “tiruan” dari alam semesta yang menurut ajaraan Buddha terdiri atas 3 bagian besar yaitu, kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.
g. Dari prasasti karangtengah bertahun 824 M maupun prasasti Sri kahulungan bertahun 824 menyebutkan bahwa ada tiga buah candi yang didirikan untuk mengagungkan kebesaran Buddha yaitu Mendut, Pawon, dan Borobudur.
h.  Prasasti Mantyasih yang terletak kira-kira 15 km disebelah utara Borobudur  tak jauh dari kota Magelang. Memiliki keistimewaan yaitu berisi tentang daftar para raja yang mendahului para raja yang memerintah.
C.  Kesimpulan
Letak Candi Borobudur terletak diatas perbukitan yang berada di Desa Borobudur, Mungkid, Magelang atau 42 km sebelah laut kota Yogyakarta. Dikelilingi Bukit Manoreh yang membujur dari arah timur ke barat. Sementara disebelah timur terdapat Gunung Merapi dan Merbabu, serta disebelah barat ada Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Arsitek yang membangun candi Borobudur bernama Gunadharma. Arti nama Borobudur yaitu “biara di perbukitan”, yang berasal dari kata “bara” (candi atau biara) dan “beduhur” (perbukitan atau tempat tinggi) dalam bahasa sansekerta. 
Candi Borobudur dibangun pada sekitar 800 M atau pada abad  ke- 9 yaitu pada masa pemerintahan raja semaratungga dan Ratu Pramodwardhani. Candi Borobudur memiliki bukti-bukti peninggalan berupa dokumen-dokumen dan prasasti-prasasti yang diantaranya: kitab Nagarakertagama, prasasti karang tengah, dan prasasti Kahulunan. Yang mana dokumen ataupun prasasti yang berisikan tentang keberadaan candi Borobudur belum diketahui kejelasannya karena banyak pendapat yang berbeda antara ahli sejarah yang satu dengan yang lainnya.
Referensi:
Tim Penyusun. 1993. Sejarah Perkembangaan Agama Buddha II. Jakarta. Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu  dan Buddha dan Universitas Terbuka.
Tim Penyusun, 2003. Materi Kuliah Sejarah Perkembangan Agama Buddha. Jakarta: CV. Dewi Kayana Abadi.
Tim Penyusun. 2009. Borobudur Archaeological Description. Jakarta: Gyan Pubhsher.
Htpp/wihans.Web.id/sejarah-candi-borobudur, (di akses pada tanggal 19 Desember 2011).
Htpp/wbw-wbw.blogspot.com/201o/08/data-fakta-seputar-borobudur-dari.html. (diakses pada tanggal 19 Desember 2011).

Jumat, 29 Agustus 2014


Pementasan sendra tari oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Syailendra Semarang telah membangkitkan semangat umat Buddha dibeberapa daerah. (Magelang, Temanggung, Solo, Salatiga, Pati, Serpong Tangerang).  STAB Syailendra merupakan salah satu Perguruan Tinggi Agama Buddha yang sangat peduli dengan pelestarian kebudayaan dan kesenian tradisional, sehinggga karya-karyanya di bidang kesenian Buddhis tidak perlu diragukan lagi. Seni tradisional yang dikemas dengan apik dan bernafaskan ajaran Buddha ini telah mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan. Berikut adalah karya seni Syailendra yang telah dipatenkan; Wayang Buddhis dengan lakon "Babaring Sang Tathagata Utama", Sendra tari "Kidung Cinta Dewi Yasodara", "Asoka", Tari Puja, dan satu album gendhing Buddhis Puja bakti Kumandang berisi 10 Lagu.